Memetakan Situasi Komunitas Kelompok Kunci

///Memetakan Situasi Komunitas Kelompok Kunci
Pertemuan Diskusi Komunitas

Pertemuan pertama pelatihan pendidikan kritis bagi komunitas dilaksanakan di kantor Indonesia AIDS Coalition (IAC), Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis, 5 April 2012. Peserta yang hadir ada 12 orang dan 3 orang tidak hadir. Acara dimulai dengan makan siang bersama sambil menunggu peserta yang belum hadir. Putri selaku fasilitator pelatihan membuka pertemuan dengan penjelasan mengenai tujuan pelatihan dan perkenalan peserta pukul 13:07 WIB.

Dalam perkenalan, peserta saling berpasangan (dua orang) dan mereka dipisahkan dari komunitas yang sama, agar bisa berbaur. Peserta diminta berkenalan dengan cara menyebutkan nama aslinya, warna kesukaan, hobi, dan kejadian yang paling menarik dalam hidup yang merupakan titik balik (sangat mengharukan, sedih, atau membanggakan). Lalu, pasangan teman disebelahnya akan memberikan nama panggilan sesuai dengan ciri khasnya dan nama panggilan aslinya. Fasilitator memberikan 2 kertas origami berwarna ungu dan hijau dan masing-masing peserta diminta untuk menuliskan nama aslinya pada kertas warna kuning dan nama dari teman sekelompoknya pada kertas warna ungu.

Selama 15 menit peserta saling berkenalan satu sama lain, diskusi terjadi sangat menarik, bahkan ada yang sampai menceritakan masalah pribadinya kepada pasangannya. Kedekatan antar sesama peserta mulai terjalin dan perasaan nyaman mulai timbul.

Setelah kurang lebih 15 menit, peserta saling memperkenalkan teman sekelompoknya kepada peserta lainnya dengan narasi yang sangat menarik, termasuk nama sebutannya. Berikut ini adalah nama-nama panggilan yang sudah dibuat: Cinta-Adante, Putri-Angin, Dedi-Beruang, Lutvi-Bunga Matahari, Orsen-Macan Sekolah, Endang-Wara-wiri, Liana-Srikandi, Mario-Teguh, Jen-the First Lady, Aldo-si Merah, Monalisa, Evert-Lelang (lelaki petualang), dan Imanudin. Para peserta ini adalah mereka berasal dari kelompok yang berbeda-beda, seperti kelompok waria, gay, pecandu, orang yang terinfeksi hiv dan perempuan. Sedangkan fasilitator  (Putri) seorang dosen filsafat Universitas Indonesia, juga mantan staff dari Jurnal Perempuan.

Perkenalan peserta
Perkenalan peserta

Dari perkenalan ini, diketahui bahwa banyak latar belakang peserta dan itu sangat beragam. Tujuan dari perkenalan ini adalah pengenalan mengenai pembatasan, yaitu masing-masing orang memberikan label kepada pasangannya dengan pengetahuan yang diketahui saat ini, namun label atau identitas itu bisa berubah seiring berjalannya waktu.

Pada kenyataannya, seseorang mudah sekali memberikan label kepada orang lain hanya dari salah satu atribut atau apa yang terlihat saja. Apalagi label sering juga dilekatkan pada stigma tertentu, misalnya label gay distigma dengan pendosa, label cowok bertato distigma sebagai penjahat, label perempuan distigma sebagai manusia yang lemah, label pekerja sex distigma sebagai manusia tidak bermoral.

Begitulah label dan identitas justru sering menimbulkan stigma pada pihak lain. Itulah pentingnya membuka diri dalam melihat orang tidak dengan “kaca mata kuda”.

Seusai perkenalan, lalu dibuatlah kontrak pelatihan sebagai berikut: HP silent namun bisa terima telepon di luar, tepat waktu, tidak memotong pembicaraan (one voice), saling menghargai, kalau ada hal yang sifatnya pribadi dan tidak ingin dipublish maka harus memberitahukan kodenya “zona kuning”, saling percaya.

Kegiatan selanjutnya yang dilakukan adalah membuat “sungai komunitas”. Kegiatan ini menggunakan metode diskusi kelompok dan masing-masing kelompok akan menuangkan presentasinya di kertas plano menggunakan gambar-gambar menarik yang didapat dari majalah dan koran. Sungai komunitas ini isinya berupa penjelasan singkat mengenai komunitas, apa yang sudah dijalankan, apa hambatan, dan harapan terhadap komunitasnya. Diskusi berlangsung selama 2 jam. Masing-masing peserta akan berkumpulkan berdasarkan komunitasnya masing-masing, misalnya komunitas pecandu, gay, waria, prostitusi dan odha.

Hasil Diskusi "Sungai Komunitas"
Hasil Diskusi "Sungai Komunitas"

Setelah kelompok selesai diskusi, peserta kembali berkumpul dan menempelkan hasil diskusinya di dinding. Terlihat poster-poster yang dibuat sangat penuh warna, menarik, dan berisi gambar-gambar yang mewakili ide mereka. Selanjutnya, masing-masing komunitas yang diwakili oleh satu orang untuk mempresentasikannya. Setelah semua komunitas mempresentasikan hasilnya, maka terjadi diskusi panas seputar komunitas, mulai dari isu sampai terjadi sedikit debat mengenai konteks kerja LSM serta paradigma kerja sosial.
Fasilitator kembali membrainstorming peserta pelatihan karena ada beberapa isu masalah di komunitas yang belum tergambarkan. Peserta memberikan tambahan informasi mengenai komunitasnya, termasuk hambatan-hambatan teknis yang terjadi di lapangan. Peserta terlihat antusias dan aktif mengikuti diskusi tersebut. Selesai diskusi, mba Uphy mengkategorikan komunitas berdasarkan akar masalah yang mereka hadapi agar mempermudah proses ke depannya karena beberapa komunitas memiliki akar masalah yang sama.

Pertemuan ini ditutup pada jam 18:00 WIB dengan penyamaan persepsi bahwa setiap orang mempunyai hak asasi sebagai manusia dan warga negara apapun jenis kelamin dan latar belakangnya. Apapun nilai pribadi setiap orang itu tidak menjadi masalah, namun ketika terjadi kekerasan terhadap komunitas tersebut, maka perlu ada solidaritas sebagai sesama manusia. Ke depannya, pelatihan ini akan lebih banyak diskusi agar mempermudah proses pemahaman peserta.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.