Kunjungan ke Klinik Komunitas “Love Yourself” di Filipina

//Kunjungan ke Klinik Komunitas “Love Yourself” di Filipina

Pada pertemuan progress review Semester 3 Project Sustainability HIV In Financing Transition (SHIFT) yang dilakukan di Manila dari tanggal 3 – 4 October 2018, IAC bersama dengan SR in country dalam Program SHIFT (MAC dari Malaysia, Achieve dari Filipina dan T-NAF dari Thailand) berkunjung ke klinik komunitas yang dinilai sudah bisa mandiri, yaitu “LoveYourself Clinic”. Perjalanan ke klinik tersebut merupakan perjuangan yang cukup melelahkan, hampir 2,5 jam dari hotel dikarenakan traffic yang fantastic di kota Manila, sedikit memberikan kekhawatiran bagi kami apakah klinik tersebut masih buka ketika kami sampai di lokasi.

Posisi klinik ini cukup tersembunyi dari pandangan masyarakat umum, terletak di antara ruko-ruko pertokoan.  Hanya ada papan nama “Love Yourself” yang terletak di depan pintu masuk ke klinik tersebut, lokasi klinik ini ada di lantai 3 dari bangunan ruko tersebut. Alangkah kagetnya ketika kami masuk kedalam klinik, ternyata ruangan klinik ini cukup luas. Bahkan berdasarkan penjelasan dari pengelola klinik tersebut bahwa klinik tersebut tidak hanya menempati seluruh lantai 3 bahkan sampai ke lantai 2  merupakan bagian dari klinik “Love Yourself”.

Seluruh lantai 3 dijadikan sebagai layanan untuk pendaftaran dan konseling test HIV dan TB dan lantai 2 dijadikan sebagai sarana laboratorium.  Bahkan di lantai 3 ada ruangan serba guna yang bisa dipergunakan untuk sosialisasi dan penjelasan mengenai penularan HIV dan TB. Mengapa klinik ini menjadi menarik bagi kami, karena klinik ini sudah mandiri dan berhasil bekerja sama dengan Skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Filipina yang disebut dengan PHIL-Health. Untuk setiap pasien yang mendapat layanan test HIV, klinik tersebut bisa mendapatkan pembiayaan dari PHIL-Health. Pembiayaan ini dapat dipergunakan sebagai biaya operasional dan Human Resources klinik, dengan komposisi 20% : 80%.

Selain itu, yang hebat dalam penanganan klinik ini, mereka berhasil menjadikan klinik ini sebagai “one stop service” bagi layanan HIV. Di klinik ini klient dapat melakukan test HIV, bahkan sampai test-test lanjutan seperti CD4 dan VL. Klinik ini juga sudah memiliki mesin TCM (GeneExpert) dengan 8 reagent yang dapat beroperasi selama 8 jam setiap harinya.  TCM ini juga dipergunakan untuk menegakkan diagnosis TB selain dari HIV. Ketika kami bertanya bagaimana mekanisme mereka bisa memiliki 3 mesin TCM ini, mereka menjelaskan bahwa 1 mesin dari donor HIVOS-KNCV dan yang 2 lagi mesin hasil negosiasi mereka dengan supplier TCM dengan mekanisme meminjam mesin. Klinik ini hanya membeli reagent untuk pengetesan HIV dan TB. Dan keunikan mesin TCM yang mereka miliki adalah dari ukuran mesin yang relative kecil, sehingga bisa dipergunakan untuk pelaksanaan Mobile VCT.

Mengenai sumber pendanaan, selain dari PHIL-HEALTH, mereka juga membuat membership bagi komunitas yang mau mengakses layanan mereka, adapun kelebihan dari membership ini adalah dari jenis pelayanan, ada beberapa kelas member tertentu, dimana klien tidak perlu datang klinik, tetapi petugas layanan kesehatan yang mendatangi klien tersebut di rumah mereka, selain melakukan pemeriksaaan juga dapat mengantarkan ARV kepada klient.

Salah satu inovasi yang mereka lakukan untuk memperluas coverage wilayah adalah dengan membuka 2 buah cabang klinik dengan segment yang berbeda, hal ini untuk menciptakan kondisi yang lebih nyaman bagi komunitas untuk bisa akses layanan kesehatan. Klinik yang kami datangi, merupakan klinik pertama mereka, yang di tujukan untuk segment menengah kebawah.  Sedangkan untuk komunitas yang remaja mereka membuka klinik di daerah mall (dimana remaja banyak berkumpul/sosialisasi). Selain itu juga klien yang ingin akses dapat mengunduh program di App Store (Android) dan Apple Store (iPhone), hal ini mempermudah pendaftaran dan mengurangi waktu tunggu di layanan kesehatan.

Berdasarkan pengalaman berbincang-bincang dengan pengelola klinik, sebenarnya meyakinkan kami bahwa masih ada peluang untuk klinik yang berbasis komunitas dapat membantu penanggulangan HIV dan TB dan dapat memiliki kesempatan untuk dapat mengakses dana pemerintah, hal ini apabila memang ada mekanisme yang mengatur hal tersebut. Hal ini masih menjadi PR besar Indonesia dalam rangka sustainability dan transition plan pasca donor menghilang dari Indonesia.