Keadilan Gender (Pertemuan Ke-Tiga)

///Keadilan Gender (Pertemuan Ke-Tiga)
Review Pertemuan Sebelumnya

Pelatihan kali ini yang diadakan pada hari Kamis, 12 April 2012 dihadiri oleh 11 orang. Sebelum memasukin materi ke-3 tentang Keadilan Gender, peserta melakukan review pertemuan sebelumnya. Fasilitator membagikan kertas metaplan berwarna hijau dan spidol kepada peserta pelatihan. Setiap peserta diminta untuk menuliskan hal yang diingat tentang pelatihan sebelumnya (pertemuan ke-2). Masing-masing peserta menuliskan sebanyak mungkin hal yang diingat diatas kertas metaplan. Satu isu satu kertas metaplan.

Setelah selesai, masing-masing peserta mempresentasikan ide yang telah ditulis, lalu mengantungkan di “jemuran celana dalam” yang melekat di dinding sehingga peserta yang lain bisa melihatnya. Setiap kertas yang dibacakan oleh masing-masing peserta. Saat dibacakan tidak ada lagi peserta yang menulis, semua ikut memperhatikan.


Secara umum, hal-hal yang didapat dari pertemuan lalu adalah pemetaan terhadap komunitas, mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusinya, saling mengenal antar peserta, pengakuan hak warga negara, pelabelan pada manusia, dan pentingnya legalitas komunitas?

Laki-laki dan perempuan
Laki-laki dan perempuan

Sebelum masuk ke dalam diskusi, peserta mengisi pre-test untuk mengukur keberhasilan pertemuan ketiga, khususnya tentang pemahaman gender. Setelah pre test ditulis dan dikumpulkan, Putri selaku fasilitator mengajak peserta untuk menulis di kertas origami berwarna kuning (laki-laki telanjang dada yang six-pack) dan ungu (perempuan memakai bikini dengan badan yang langsing). Tugasnya masing-masing peserta untuk memikirkan ketika melihat kedua gambar tersebut. Hasil pendapat dari masing-masing peserta ditempelkan berdasarkan gambar yang ada.

Hampir semua peserta menganggap gambar laki-laki seperti maskulin, pemberani, berotot sedangkan perempuan itu girly, lemah lembut, cantik dan sexy.

Peserta meyimpulkan bahwa gender adalah pembedaan antara laki-laki (penis) dan perempuan (vagina) yang dikontruksikan (dibangun) oleh sistem sosial, budaya maupun pandangan agama dalam satu masyarakat tertentu. Situasi ini dapat berubah-ubah dalam ruang dan waktu, sehingga dapat dipertukarkan.

Sedangkan sex adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara biologis yang tidak tidak dapat dipertukarkan.

Kemudian fasilitator brainstorming peserta dan mengatakan apakah semua yang bervagina itu selalu girly dan laki-laki itu selalu maskulin? Peserta terlihat penasaran, lalu fasilitator mengajak menonton film berjudul “The Impossible Dream”. Film itu bercerita tentang pembagian peran dalam keluarga yang masih “konservatif” dimana perempuan mengalami beban ganda karena harus mengurus urusan domestik dan juga bekerja di waktu yang sama. Di akhir film itu, sang ibu bermimpi akan pembagian tugas yang seimbang dalam rumah dimana sang ayah dan anak laki-laki juga turut membantu pekerjaan domestik (rumah tangga).

Melihat ketertarikan peserta akan film itu, fasilitator mengajak peserta untuk berdiskusi dan membahasnya. Diskusi yang terjadi sangat menarik dimana semua peserta memaparkan pendapatnya, rata-rata peserta menganggap peran yang diemban oleh perempuan adalah sesuatu yang tidak adil. Dari diskusi yang ada, fasilitator mulai menjelaskan mengenai gender dan sex lewat beberapa contoh persepsi, stigma dan diskriminasi, serta aturan atas perempuan dan laki-laki yang ada di masyarakat.

Jemuran review
Jemuran review

Untuk mendalami isu-isu yang muncul, Hartoyo mengajak teman-teman komunitas (waria dan gay) ikut berbagi pengalaman mengenai pembagian tugas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka menceritakan pengalamannya dimana ada yang sudah seimbang pembagian tugasnya dan ada yang masih heteronormatif (mengikutu pola-pola relasi hubungan heteroseksual) meskipun mereka adalah pasangan gay. Perdebatan antar peserta semakin seru ketika ada salah satu peserta yang memberikan wacana bahwa gender itu adalah produk barat. Debatpun terjadi karena setiap peserta mempunyai pandangan masing-masing, sehingga untuk memudahkan prosesnya peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Tiap kelompok diminta merefleksikan diri lalu menuliskan dampak dari praktek ketidakadilan gender bagi laki-laki, perempuan dan waria yang selama ini terjadi.

Tiap kelompok menjelaskan hasil diskusinya, ternyata semua kelompok memberikan gambaran bahwa baik laki-laki dan perempuan mengalami kerugian akibat gender yang konservatif.

Lalu muncullah pertanyaan “Mengapa gerakan keadilan gender hanya didominasi oleh perempuan, sedangkan laki-laki juga mengalami kerugian akan keadaan tersebut?“.

Karena suasana sudah mulai memanas dan diskusipun semakin menarik, fasilitator mengajak peserta untuk bermain analisa kasus dimana peserta diminta untuk menyelesaikan masalah yang tergambar dalam narasi yang sudah dibagikan.

Narasi tersebut menceritakan tentang seorang perempuan (Tina) berusia 15 tahun yang dipaksa menikah untuk meringankan beban orang tuanya yang miskin. Karena takut dan tidak siap, iapun melarikan diri. Namun di tengah perjalanan, ia diperkosa oleh penjaga kebun dan 2 orang lainnya secara bergiliran. Tinah hamil tapi orang tuanya merasa malu karena dianggap sebagai aib keluarga hingga akhirnya ia meninggal karena tidak bisa mengakses layanan kesehatan.

Permainan jaring laba-laba dijadikan ajang untuk membahas analisa masalah Tina, setiap orang yang memaparkan kasus yang sama diberikan tali untuk menghubungkan satu sama lain. Masalah yang dianalisa dari kasus Tina antara lain : persoalan pendidikan, usia, ekonomi, akses, pola pikir dan tradisi masyarakat, dan hukum.

Permainan Jaring Laba-laba
Permainan Jaring Laba-laba

Selanjutnya peserta diajak untuk mencari tahu akar permasalahannya dan diajak berpikir untuk memberikan solusi dalam masalah ini. Masing-masing peserta mempunyai pendapat yang berbeda lalu mereka berargumentasi agar pendapat mereka diterima oleh peserta lainnya. Diskusi ini diakhiri dengan kesepakatan bahwa semua bidang mempunyai peran penting dalam penyelesaian masalah Tina.
Mengakhiri diskusi dan perdebatan, fasilitator membagi lima isu penting dalam kasus Tinah, yaitu: budaya patriarki dimana laki-laki dianggap paling tinggi, pandangan agama yang masih menganggap perempuan lebih rendah dari laki-laki, kebijakan negara yang masih bias gender, pendidikan yang bias gender, dan factor kemiskinan.

Terakhir, fasilitator menutup pertemuan dengan membagikan bahan bacaan untuk mempedalam tentang keadilan gender. Pertemuan selanjutnya (Kamis, 19/4/2012) akan membahas tentang pandangan Gender dalam kajian Islam, mengundang narasumber Prof.Siti Musdah Mulia, seorang aktivis perempuan dan juga cendekiawan muslim di Indonesia.

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.