Humanity + Respect = FootballHumanity + Respect = Football

//Humanity + Respect = FootballHumanity + Respect = Football

League Of Change
League Of Change

Dibawah kolong jembatan layang, para pemuda berlari mengejar bola untuk memasukan gol ke gawang lawan. Mereka adalah League Of Change para peserta turnamen “Street Soccer League of Change” yang diselenggarakan dari 26-28 Februari 2012 di Lapangan Pulosari, bawah jembatan Pasopati, Balubur, Kota Bandung, Jawa Barat.

Terkesan tidak ada yang berbeda dengan kegiatan turnamen bola kaki yang biasa terjadi. Turnamen ini bukan “sembarang” kegiatan, satu hal yang fenomenal dalam sejarah sepak bola Indonesia, minimal itu yang tertulis dispanduk. ” Liga Nasional Street Soccer Paling Fenomenal Dalam Sejarah Sepak Bola Indonesia”. Humanity + Respect = Football.

Dinilai fenomenal karena peserta dan tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan, yaitu menghilangkan stigma dan diskriminasi serta meningkatkan kualitas hidup orang yang terinfeksi HIV (ODHA), ungkap Bogim selaku ketua panitia pelaksana.

Menurut Bogim, peserta turnamen berasal dari kelompok ODHA, mantan/pengguna narkoba dan anak jalanan. Seluruh peserta yang ikut turnamen yang baru pertama sekali diadakan ini, ada 8 groups dari 8 propinsi yang diundang. Diantaranya Kalimatan Selatan, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat. Kali ini yang akan berhadapan di final antara team Jawa Baret dengan DKI Jakarta (28/2/2011). Selain itu masih ada peserta “ekspedisi” dari kelompok ibu-ibu dan Waria di Jawa Barat. Kegiatan kali ini juga melibatkan kepanitiaan dari masyarakat sekitar, ungkap Bogim.

Penyelenggara kegiatan turnamen dilaksanakan oleh Rumah Cemara (RC) dengan dukungan beberapa sponsor, salah satunya kedutaan Australia dan perusahaan jamu Kuku Bima. Rumah Cemara sendiri adalah kelompok dukungan sebaya bagi orang-orang yang terinfeksi HIV dan AIDS dan ketergantungan Narkoba. Rumah Cemara didirikan sejak tahun 2003 oleh pengguna/mantan Narkoba di kota Bandung. Kegiatan bola kaki menjadi salah satu cara Rumah Cemara melakukan sosialisasi isu Narkoba dan ODHA. Sampai sekarang ini sudah lebih dari 300 orang pecandu dan ODHA yang mendapatkan dukungan dari kelompok ini.

Dalam kegiatan ini akan dipilih 15 orang pemain untuk mengikuti kegiatan Homeless World Cup (HWC) tingkat International di Mexico, 2012. Pada 2011 kelompok ini juga telah mengikuti kejuaraan yang sama di Champs de Mars, Paris dengan memenangkan The best New Comer dan The Best Player.

Tentu kita berharap kepada pemerintah, khususnya Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kementerian Kesehatan, Kepolisian, Pengadilan dan Kementerian Hukum Dan HAM serta DPR RI dapat belajar dari apa yang telah dilakukan oleh komunitas Rumah Cemara. Pemberantasan Narkoba dan penanggulangan HIV dan AIDS seharusnya menggunakan cara-cara persuasif dan pendekatan kemanusiaan seperti yang telah dilakukan oleh Rumah Cemara.

Bukan dengan cara militerisme atau dengan tindakan dehumanisasi (tidak manusiawi). Karena pecandu bukan objek penyiksaan, pemerasan, yang selama ini dilakukan pihak kepolisian, pengadilan sampai di penahanan. Inilah “wajah” korban narkoba di Indonesia yang sampai detik ini masih terus terjadi. Mari kita belajar bersama dari kegiatan turnamen Street Soccer ini.

*image: FB Rumah Cemara

League Of Change
League Of Change

Dibawah kolong jembatan layang, para pemuda berlari mengejar bola untuk memasukan gol ke gawang lawan. Mereka adalah League Of Change para peserta turnamen “Street Soccer League of Change” yang diselenggarakan dari 26-28 Februari 2012 di Lapangan Pulosari, bawah jembatan Pasopati, Balubur, Kota Bandung, Jawa Barat.

Terkesan tidak ada yang berbeda dengan kegiatan turnamen bola kaki yang biasa terjadi. Turnamen ini bukan “sembarang” kegiatan, satu hal yang fenomenal dalam sejarah sepak bola Indonesia, minimal itu yang tertulis dispanduk. ” Liga Nasional Street Soccer Paling Fenomenal Dalam Sejarah Sepak Bola Indonesia”. Humanity + Respect = Football.

Dinilai fenomenal karena peserta dan tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan, yaitu menghilangkan stigma dan diskriminasi serta meningkatkan kualitas hidup orang yang terinfeksi HIV (ODHA), ungkap Bogim selaku ketua panitia pelaksana.

Menurut Bogim, peserta turnamen berasal dari kelompok ODHA, mantan/pengguna narkoba dan anak jalanan. Seluruh peserta yang ikut turnamen yang baru pertama sekali diadakan ini, ada 8 groups dari 8 propinsi yang diundang. Diantaranya Kalimatan Selatan, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat. Kali ini yang akan berhadapan di final antara team Jawa Baret dengan DKI Jakarta (28/2/2011). Selain itu masih ada peserta “ekspedisi” dari kelompok ibu-ibu dan Waria di Jawa Barat. Kegiatan kali ini juga melibatkan kepanitiaan dari masyarakat sekitar, ungkap Bogim.

Penyelenggara kegiatan turnamen dilaksanakan oleh Rumah Cemara (RC) dengan dukungan beberapa sponsor, salah satunya kedutaan Australia dan perusahaan jamu Kuku Bima. Rumah Cemara sendiri adalah kelompok dukungan sebaya bagi orang-orang yang terinfeksi HIV dan AIDS dan ketergantungan Narkoba. Rumah Cemara didirikan sejak tahun 2003 oleh pengguna/mantan Narkoba di kota Bandung. Kegiatan bola kaki menjadi salah satu cara Rumah Cemara melakukan sosialisasi isu Narkoba dan ODHA. Sampai sekarang ini sudah lebih dari 300 orang pecandu dan ODHA yang mendapatkan dukungan dari kelompok ini.

Dalam kegiatan ini akan dipilih 15 orang pemain untuk mengikuti kegiatan Homeless World Cup (HWC) tingkat International di Mexico, 2012. Pada 2011 kelompok ini juga telah mengikuti kejuaraan yang sama di Champs de Mars, Paris dengan memenangkan The best New Comer dan The Best Player.

Tentu kita berharap kepada pemerintah, khususnya Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kementerian Kesehatan, Kepolisian, Pengadilan dan Kementerian Hukum Dan HAM serta DPR RI dapat belajar dari apa yang telah dilakukan oleh komunitas Rumah Cemara. Pemberantasan Narkoba dan penanggulangan HIV dan AIDS seharusnya menggunakan cara-cara persuasif dan pendekatan kemanusiaan seperti yang telah dilakukan oleh Rumah Cemara.

Bukan dengan cara militerisme atau dengan tindakan dehumanisasi (tidak manusiawi). Karena pecandu bukan objek penyiksaan, pemerasan, yang selama ini dilakukan pihak kepolisian, pengadilan sampai di penahanan. Inilah “wajah” korban narkoba di Indonesia yang sampai detik ini masih terus terjadi. Mari kita belajar bersama dari kegiatan turnamen Street Soccer ini.

*image: FB Rumah Cemara

No comments yet.

Leave a comment

Your email address will not be published.