Harga Obat ARV generik lokal jauh lebih mahal daripada ARV generik import

Tabel di bawah ini akan memaparkan perbandingan harga obat ARV generik lokal dengan ARV generik Import. Jelas terlihat bahwa harga ARV generik lokal itu berlipat kali lebih mahal dibandingkan dengan harga obat ARV generik Import.

Berikut perbandingan harganya:

Kurs US$ 1

9200

Nama Obat

Lokal

Import

3TC / Lamivudine

11.2

2.6

AZT / Zidovudine

8.4

7.4

AZT+3TC / Lamivudine+Zidovudine

27.4

8.8

NVP / Nevirapine

23.0

3

Memang selama ini pembelian obat ARV disubsidi penuh oleh pemerintah sehingga Orang terinfeksi HIV (ODHA) bisa mendapatkannya dengan gratis namun bila harganya bisa ditekan, tentu saja akan sangat membantu dalam pembiayaan lain yang lebih bermanfaat bagi ODHA dan program penanggulangan AIDS.

Berikut dokumen lengkapnya: (sumber: Pricelist CHAI 2011 dan SK Menkes ttg Harga Eceran Tertinggi Obat Generik 2012)

Download dokumen disini

Incoming search terms:

  • harga arv
  • Harga obat hiv
  • berapa harga obat arv
  • daftar harga obat mahal
  • biaya pengobatan hiv
  • berapa harga arv
  • harga obat ARV di indonesia
  • harga lamivudine
  • harga obat lamivudine
  • daftar harga obat arv

Where did the AIDS money go?

Pemerintah Indonesia baru saja memasukkan laporan Perkembangan program penanggulangan AIDS di Indonesia kepada PBB. Laporan ini dikenal dengan nama Country Progress Report to UNGASS on AIDS 2012. Laporan ini adalah laporan rutin dua tahunan yang dimasukkan setiap negara anggota PBB untuk mengetahui sejauh mana capaian, tantangan serta kesenjangan program penanggulangan AIDS di setiap negara.

[Read more...]

Incoming search terms:

  • data tbel ODHA di indonesia

Harga Eceran Tertinggi Obat Generik berdasarkan SK Menkes

Menariknya, harga obat ARV di Indonesia tidak sejalan dengan penurunan harga obat di dunia. Bila dibandingkan antara dua dokumen di website ini mengenai obat ARV, obat ARV produksi dalam negeri berharga jauh lebih mahal.

Untuk mendownload klik disini

Incoming search terms:

  • daftar harga obat generik
  • daftar harga obat
  • harga obat arv
  • daftar harga obat generik 2012
  • daftar harga obat generik terbaru
  • harga obat generik
  • daftar obat generik
  • daftar harga obat 2012
  • daftar obat generik 2012
  • Daftar Obat Indonesia

ODHA harus mendapatkan obat ARV yang Aman.

“Ya, memang sebaiknya ARV jenis d4T itu digantikan dengan yang lebih aman. Misalnya Tdf (tenofovir)” ucapan itu meluncur dari mulut Prof Dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM, seorang Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam, Universitas Indonesia. Ucapan itu meluncur ketika tim advokasi dari IAC dan Kampanye #ODHABerhakSehat menemui beliau di sela-sela acara pemberian apresiasi kepada ODHA (Orang terinfeksi HIV) yang telah mengkonsumsi ARV lebih dari 5 tahun dan bisa tetap sehat.

Acara ini diadakan di Ruang Kuliah Penyakit Dalam, Universitas Indonesia pada tanggal 23 Mei 2012. Acara ini merefleksikan dan memperlihatkan betapa baiknya hubungan yang terjalin diantara dokter dan staff paramedis di Pokdisus RSCM dengan ODHA. Hubungan yang berjalan baik ini sangat diperlukan guna menjaga kualitas hidup ODHA tetap sehat. Peserta dari acara ini meliputi segenap dokter dan paramedis di Pokdisus HIV dan AIDS RSCM serta sekitar 50 ODHA yang selama ini mengakses layanan HIV dan AIDS.

Acara diawali dengan beberapa pemaparan dari Tim Pokdisus RSCM yang memperlihatkan beberapa perbaikan baik dalam struktur maupun infrastuktur layanan HIV dan AIDS di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo. Perbaikan ini sangat menunjang peran kerja unit HIV dan AIDS di lingkup RSCM ini menginggat rumah sakit ini menjadi rujukan utama guna menangani persoalan HIV dan AIDS. Setiap bulannya ada ribuan ODHA yang berobat di Rumah Sakit ini.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dengan ODHA yang hadir. Prof Zubairi menanyakan jenis ARV apa yang dikonsumsi rekan-rekan ODHA, berapa lama dikonsumsi dan bagaimana kondisi kesehatannya sekarang. Semua ODHA lalu bergantian bercerita bahwa dengan ARV mereka bisa menjaga tingkat kesehatannya lebih baik. Dari ODHA yang datang, diketahui hanya sekitar 5 orang yang masih mengkonsumsi kombinasi obat ARV yang menggunakan jenis d4T. Ketika Prof Zubairi bertanya siapakah diantara pengguna ARV tersebut yang mengalami efek samping yang menggangu, beberapa pengguna ARV non d4T menyatakan ada beberapa yang mengalami efek samping dan semua pengguna ARV jenis d4T mengangkat tangan dan menyatakan mereka menerima efek samping akibat kombinasi ARV dengan salah satunya menggunakan d4T.

Salah seorang ODHA perempuan kemudian bercerita di depan bahwa dia sempat menggunakan ARV jenis d4T di masa awal. Ketika itu dia sampai 2 tahun menggunakan obat ini. Dia bercerita jika efek samping obat ini telah menyedot lemak dia di bagian tangan dan kemudian muncul penebalan lemak di bagian lain tubuhnya. “Keluarga saya komplain karena penampilan saya menjadi aneh sehingga kuatir mengundang pertanyaan dari saudara-saudara saya. Saya sekarang lebih bermasalah dengan stigma yang lahir dari berubahnya bentuk fisik tubuh saya ini dibandingkan stigma saya sebagai seorang yang terinfeksi HIV” Sekarang dia telah berganti jenis obat namun masih harus berjuang untuk pemulihan fisiknya sehingga terlihat seperti pada orang umumnya.

Prof Zuabiri kemudian menjelaskan bahwa setiap obat pasti mempunyai efek positif dan negatif. Satu yang dia tekankan. ARV itu sangat membantu ODHA bisa tetap sehat sehingga dia menghimbau setiap ODHA jangan berhenti minum obat ARV. Namun, dia pun berujar bahwa pengalam teman-teman ODHA yang sharing ini perlu dijadikan pembelajaran bagi setiap dokter di Pokdisus RSCM serta dokter lain untuk mengganti peresepan obat ARV jenis d4T dengan obat ARV jenis lain yang lebih aman. Misalnya Tdf (Tenovovir).

Beberapa studi kasus di RSCM juga menunjukkan bahwa ada kemungkinan bahwa pasien yang berpindah dari sebelumnya menggunakan AZT lalu karena anemia kemudian berganti obat menjadi ARV jenis d4T bisa kembali lagi menggunakan obat AZT namun dia berpesan hanya boleh dilakukan dimana kondisi monitoring pasien bisa berjalan baik. Bila tidak, disarankan untuk menggantinya dengan Tenovovir.

Ketika ditemui seusai acara oleh tim advokasi #Stopd4T, Prof Zubairi Djoerban kembali menegaskan pendapatnya bahwa memang sebaiknya ARV jenis d4T diganti dengan jenis ARV yang lebih aman misalnya Tdf (Tenovovir). Tapi sekali lagi dia berpesan kepada Tim Advokasi #Stopd4T untuk selalu mengedepankan kepentingan korban yaitu ODHA yang mengkonsumsi d4T di dalam mengupayakan upaya penggantian obat ARV jenis d4T dengan jenis lainnya yang lebih aman. Jangan sampai kemudian ODHA tidak mengkonsumsi ARV.

Beliau memberikan masukan berharga dengan meminta kepada teman-teman untuk memetakan di daerah mana obat ARV jenis d4T itu masih di distribusikan, daerah mana dimana d4T didistribusikan dan sudah ada obat Tdf yang juga didistribusikan serta daerah mana dimana obat d4T itu didistribusikan namun belum ada obat Tdf yang beredar. Dia berpesan untuk memberikan perlakuan yang berbeda terhadap setiap daerah ini sehingga ODHA tetap bisa mendapatkan pengobatan. Dia pun sepakat jika para dokter di daerah pelan-pelan mulai merespkan obat ARV yang lebih aman kepada ODHA karena efek samping d4T ini bisa berbahaya bagi ODHA.

Di akhir kata ketika tim advokasi #Stopd4T meminta kepada Prof Zubairi Djoerban untuk kembali memimpin gerakan masyarakat untuk memperjuangkan perbaikan akses pengobatan bagi ODHA serta kemungkinan melakukan lisensi wajib kepada ARV bukan hanya lini 1 namun juga Lini 2, beliau berpesan “Sudah saatnya ODHA-ODHA seperti kalian ini yang berdiri di depan dan meminta pemerintah melakukan perbaikan akses pengobatan kepada ODHA. Jangan hiraukan perasaan bahwa kalian tidak memahami medis klinis karena pada prinsipnya suara kalianlah yang semestinya di dengar karena kalian adalah korban dari Epidemi ini.” Belian pun menambahkan jika dirinya serta beberapa rekan lainnya selalu siap sedia setiap saat mendukung upaya ODHA guna berjuang meminta perbaikan akses pengobatan bagi seluruh ODHA di Indonesia.

Incoming search terms:

  • efek samping arv
  • obat arv
  • efek samping obat arv
  • pengobatan ARV
  • efek samping pengobatan arv
  • cara mendapatkan obat arv
  • efek samping terapi arv
  • efek arv
  • prof dr zubairi djoerban sppd khom
  • efek samping minum arv

Advocacy Alert – Apa yang bisa kita lakukan agar obat ARV jenis d4t (Stavudine) bisa segera ditarik?

Selamatkan ODHA dari d4t

Selamatkan ODHA dari d4t

Apa yang bisa kita lakukan agar obat ARV jenis d4t (Stavudine) bisa segera ditarik?

Panduan WHO untuk ARV 2010 yang kemudian di adopsi oleh Kemenkes dalam Panduan ARV 2011 (Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral, Kemenkes 2011) telah menyatakan dengan jelas bahwa obat ARV jenis d4t mempunyai toksisitas yang tinggi.

Efek jangka panjang dari obat ini dituliskan dalam kedua panduan itu bahwa d4T mempunyai efek samping permanen yang bermakna, antara lain lipodistrofi dan neuropati perifer yang menyebabkan cacat serta laktat asidosis yang menyebabkan kematian.

Kemenkes juga menuliskan dalam panduan jika mereka akan menarik obat d4t ini namun sayangnya sampai hari ini rencana penarikan obat d4t belum berjalan mulus. Obat ini, meskipun sudah diakui mengandung racun, masih tetap di resepkan oleh dokter.

Hak setiap individu untuk tetap sehat adalah hak universal yang dijamin oleh negara berdasarkan Undang-Undang. Negara berkewajiban menyediakan standard tertinggi layanan (termasuk obat) kesehatan guna meningkatkan taraf kesehatan setiap warga negara.
ODHA, komunitas terdampak AIDS dan rekan-rekan yang bekerja untuk program penanggulangan AIDS tidak boleh berdiam diri melihat situasi ini. Kita harus bekerja demi menyelamatkan ODHA yang sampai hari ini masih mengkonsumsi d4T ini.

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

Alat yang harus dipersiapkan:

  1. Panduan Kementrian Kesehatan RI untuk penggunaan ARV: Download dan print dari link ini: http://www.iac.or.id/panduan-kemenkes-untuk-arv-2011/
  2. Lembar Informasi 414, Yayasan Spiritia terkait dengan d4t: donwload dan print dari link ini: http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=414
  3. Buat pernyataan dari Komunitas mengenai yang berisi mengapa kita meminta penggantian ARV jenis d4t dengan ARV jenis lainnya. Pernyatan tidak perlu terlalu bagus dan panjang yang penting ringkas dan jelas berisi apa itu ARV, apa itu d4t, apa dampak d4t bagi yang mengkonsumsi. Dampak d4t itu bisa diambilkan dari testimoni rekan yang mengkonsumsi d4t. Ingat, tetap jaga konfidensialitas dengan tidak mencantumkan nama lengkap kecuali inisial tanpa sepersetujuan pihak yang bersangkutan.

Apa yang bisa kita lakukan:

  1. Ajak beberapa rekan ODHA untuk membedah isi dari kedua panduan diatas dan bandingkan dengan kenyataan yang teman-teman alami dan rasakan.
  2. Jika teman-teman tergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), jadikan topik ini sebagai bahan diskusi.
  3. Temui dokter dan paramedia yang biasa memberikan layanan perawatan dan pengobatan bagi ODHA. Tunjukkan dua pedoman ini dan katakan untuk mulai mengganti peresepan d4T dengan jenis lainnya yang lebih aman misalnya AZT atau TDF.
  4. Temui Komisi Penanggulangan AIDS dan Dinas Kesehatan setempat. Ajak mendiskusikan kedua panduan ini dan minta mereka untuk membantu agar obat ARV jenis d4T ini tidak didistribusikan lagi kepada ODHA.
  5. Buat kampanye di Facebook dan Twitter untuk memberitahu publik bahwa ARV jenis d4t ini berbahaya sehingga perlu diganti jenis ARV lainnya. Pasang avatar tanda kita berkabung jika d4T tetap di distribusikan.
  6. Gunakan Moment Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2012 yang diselenggarakan di kotamu:
    • Berikan pesan kampanye “Stop distribusi d4T dan Selamatkan ODHA!”
    • Galang dukungan ODHA, Komunitas lain dan masyarakat untuk mendorong digantinya obat d4T dengan obat lain.
    • Buat pernyataan kepada media massa (Tv, radio dan Kertas) dan dorong mereka memberitakan situasi ini.
    • Sebarkan pernyataan tadi di seputaran tempat berlangsungnya MRAN dan lokasi publik lainnya. Tidak perlu dicetak, difotokopi juga akan efektif.
  1. Ajak Komisi Penanggulangan AIDS dan Dinas Kesehatan setempat untuk membuat pertemuan khusus guna membahas pergantian obat ARV jenis d4t ini dengan jenis ARV lainnya.
  2. Adukan permasalahan ini ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Konsumen kesehatan dijamin haknya untuk mendapatkan layanan publik yang baik dan terjamin mutunya.
  3. Buat pelaporan resmi kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia karena hak asasi bagi warga negara telah dilanggar.
  4. Jajaki kemitraan dengan Lembaga Bantuan Hukum setempat untuk melihat kemungkinan membuat gugatan hukum karena pemerintah telah melakukan pembiaran yang membahayakan rakyat serta kemungkinan ganti rugi bagi korbannya.

Yang disebutkan diatas hanyalah beberapa contoh yang bisa dilakukan. Silahkan berkreasi dengan tujuan menghentikan distribusi obat ARV jenis d4t dan menggantinya dengan jenis yang lain. Sekarang!

Mari komunitas bersuara! Kalo bukan kita, siapa lagi!!

Meskipun kita tidak menggunakan jenis obat ini, namun ini bukan alasan untuk menjadi apatis dan masa bodoh terhadap sesama kita yang akan menderita jika penggunaan obat ini diteruskan. Bayangkan jika suatu saat kita yang akan menghadapi situasi ini dan rekan lain semua apatis.

Jadi, mari bergerak!

Incoming search terms:

  • contoh obat d4t
  • apakah arv bisa digantikan dgn vco
  • arv racun apa obat
  • contoh advocacy website pemerintah
  • contoh laporan tentang obat stavudine
  • efek samping arv tenovofir